Senin, 25 Juli 2011

Pendidik dan Pembina

"Seorang figur Pemimpin yang baik harus bersifat mendidik dan membina!". Itulah yang ada dalam benak penulis mengenai perkembangan yang sudah terlalu dewasa. Masalah-masalah kecil hingga masalah yang rumit sangat merasuki dinamika kehidupan, terutama perkembangan anak-anak. Tidak perlu dipungkiri lagi bahwa negara kita ada dalam krisis yang cukup membelit, dan tidak tanggung-tanggung semua iotu menjadi rantai yang berkaitan, tidak tahu dari mana ujungnya dan akarnya.
Terkadang berpikir dan merenungkan apakah semua permasalahan itu harus dilewati dengan sebuah kata "Lari" atau harus dihadapai dengan masak-masak. Lalu sejenak penulis mendalami sebuah situasi ini dan hanyalah terlintas pikiran tersebut! "seorang pemimpin yang baik dan MUNGKIN bisa menyelesaikan permasalahan yang ada di setiap situasi ini adalah mereka yang memiliki figur MEMBINA dan MENDIDIK!" Sebagai mahasiswa/i sekaligus calon pendidik kita dalam realitasnya kita akan bertemu dengan sebuah situasi yang berbeda dan cukup rumit, dan hal itu didasari bahwa kita akan bertemu dengan Makhluk Hidup, berbeda dengan ilmu sipil, hukum, perekonomian yang tidak secara langsung bertemu dengan manusia. Manusia sebagai pusat dan lebih tepatnya kita disini lebih mengarahkan kepada mereka ke jalan yang benar.(Seirama dengan kebenaran-Concordia cum veritae). Nah bila kita mengingat kembali, sebagai pendidik menjalani tugas moral yang cukup berat.Di UNIKA Atma Jaya mempunyai jurusan yang berhubungan keguruan, yaitu Bagi Prodi PGSD mereka mempunyai sebuah beban Moral yaitu mendidik anak-anak umur 6 tahun hingga 12 tahun, sedangkan Bimbingan Konseling lebih kepada bimbingan moral dan jiwa seseorang istilah kata dalam bahasa ngetrendnya ialah "tempat curhat". Lalu untuk Teologi ada pada bagian membimbing spiritualitas rohani yang bisa menunjang moral seseorang menjadi kepribadian baik. Bagaimana dengan Inggris? ya. Memang bagiannya berbeda sendriri tetapi tetap mempunyai tujuan yaitu membimbing para naradidiknya, bahkan mempunyai perbandingan Budaya Indonesia dengan Inggris.
Terlepas dari semua ilmu yang kita punyai dan kita pelajari kini, penulis mempunyai pertanyaan mendalam... apakah kita sudah bersifat mendidik dan membina walaupun gelar S.pd masih dalam proses?? jawaban itu ada pada diri kita sendiri. Sebuah kebenaran yang menjadi patokan dalam mendidik, dan diperlukan bagi negara kita dan masyarajkat yang sudah agak rumit. Bila penulis boleh mengutip perkataan john Dewey Kebenaran sama sekali bukan hal yang sekali ditentukan dan tidak boleh diganggu gugat, sebab dalam prakteknya kebenaran memiliki nilai fungsional yang tetap. Segala pernyataan yang kita anggap benar pada dasarnya dapat berubahKebenaran ada pada setiap personalnya dan harus saling memiliki kesadaran supaya mengingatkan ke arah yang benar. Tidak perlu memaksakan sesuatu hal yang dikira bisa menjadi paradigma, dan kebenaran bisa saja berubah-ubah karena pada kondisi tertentu. Sebagai pendidik atau pembina semua yang diarahkan pada kebenaran harus tergantung pada manusia dan situasi, tidak perlu berbentuk otoritas tetapi biarkan mereka mencari dan menggali sendiri. Selama ini penulis memandang kebenaran dalam situasi ini hanyalah bersifat ilmu dan abstrak, tidak bersifat kongkrit danterkadang bertolak belakang pada kasusnya. Peran pendidik dan pembina diletakkan pada perkataan Ki hajar Dewantara: ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. ("di depan menjadi teladan, di tengah membangkitkan semangat, dari belakang mendukung")
Apa yang telah terjadi sudah terlanjur dan tidak perlu diratapi lagi. Dewasa ini pula berbagai lapisan masyarakat hanya mengkritik tidak mau mencari jalan keluar. Alangkah baiknya setiap personal saling mendukung dan mendorong sesamanya ke arah kebenaran yang sejati, dan... menanamkan sikap yang tidak acuh kepada kondisi yang telah terlanjur ini. Teruntuk untuk para calon pendidik Di FKIP Atma Jaya, mulailah kita membuka hati, pikiran, dan telinga sebagai perlambang juga kepedulian kita terhadap situasi yang sudah lumayan kompleks. Bahkan mulai membuat sebuah karya nyata yang tidak terfokus pada satu titik saja, namun menyeluruh kepada agenda-agenda pembangunan bangsa. Jadilah seorang pendidik yang mendidik yang menanamkan sebuah moral dan etika yang baik untuk klangsungan masyarakat, jadilah seorang pembina yang mengajak sesamanya tidak acuh untuk menemukan sebuah kebenaran agar kita sama-sama menyadari dan memahami apa yang diperlukan. Lakukan Sekarang Atau Tidak Sama Sekali!







Minggu, 24 Juli 2011

Ketika agama tidak ada Humor lagi

Agama-agama tampaknya terlampau berkonsentrasi pada hal-hal serius. Agama-agama disibukkan dengan pengaturan ibadat yang tepat dan pengawasan atas perilaku moral manusia yang benar. Agama-agama juga terlampau serius untuk memberi hati bagi hal-hal yang ringan dan lucu dalam hidup. Padahal, sejatinya humor itu penting dan boleh disebut sebagai salah satu tanda orang-orang yang diselamatkan.
Humor dan tertawa yang menjadi reaksinya adalah ungkapan kelepasan, pembebasan. Itulah pula inti dari keimanan. Iman tidak dapat dipisahkan dari pembebasan dan pembebasan tidak dapat dilepaskan dari kegembiraan. Orang yang yakin akan pembebasannya adalah orang yang bergembira dan mewartakan kegembiraan.
Orang yang beriman meyakini bahwa hidupnya jauh lebih kaya daripada apa yang dapat diaturnya sendiri, bahwa makna dirinya jauh lebih dalam daripada apa yang direfleksikannya, bahwa martabatnya jauh lebih luhur daripada apa yang dapat dikumpulkan dan dibanggakannya sendiri. Dia meyakini kebesaran Tuhan yang rela menyapa dan mengangkatnya dari kerapuhan dan keterbatasan. Iman yang sejati selalu bermuara pada kedermawanan dalam mengampuni kesalahan dan keluasan hati menerima perbedaan.
Sebuah gugatan
Tak Ada Santo dari Sirkus adalah sebuah gugatan terhadap hilangnya humor dalam agama-agama. Aku, si tokoh utama di dalam novel Seno ini, mengisahkan pengalamannya yang berkaitan dengan sirkus dari dua masa dan di tempat berbeda. Kisah masa kecil yang diceritakan dalam alur mundur mempertemukan kita dengan dunia sirkus yang memadukan kejenakaan dan musik. Paduan ini dihadirkan kembali pada masa dewasa saat sang tokoh utama berkisah tentang petualangannya sebagai seorang tenaga sukarela untuk perdamaian di sebuah kota tanpa nama.
Kedua masa dan dunia berbeda ini menghadirkan sirkus dalam dua sisi yang berlawanan. Kekaguman pada sirkus si tokoh utama pada masa kecil sepertinya dipertaruhkan saat dia mesti mengalami bahwa sirkus, seperti semua hal lain di dalam kehidupan orang dewasa, dapat disalahgunakan. Cinta dan keterikatan warga dengan kelompok sirkus pertama yang artistik dan berselera tinggi, kemudian dihancurkan oleh kelompok sirkus kedua yang mengutamakan atraksi-atraksi kekerasan dan bergaya militer.
Atas nama nasionalisme, orang-orang yang mengandalkan kekerasan ini menjebak warga dalam rasa benci dan amarah terhadap para seniman yang sebelumnya sudah lekat di hati warga. Yang tersisa dalam diri si tokoh utama adalah kepandaian meniup klarinet. Kepandaian inilah yang membawanya bergabung dengan para relawan perdamaian.
Ternyata di sini pun, di kota yang memiliki kebanggaan karena menjadi tempat istimewa dalam petualangan Paulus, sang santo agung dalam tradisi kekristenan, si aku dalam Tak Ada Santo dari Sirkus, menghadapi masalah yang sama. Sirkus di mata sejumlah pegiat perdamaian yang berusia muda dan kreatif dipandang sebagai sarana perdamaian karena meluluhkan kepongahan manusia dan meleburkan semua orang dalam kegembiraan yang sama. Namun, di sisi lain sirkus dianggap sebagai sarana pencemaran kekudusan oleh jemaat yang dogmatis dan pemimpin para relawan yang sudah mapan.
Ketika menghadapi pertentangan karena sirkus, si pencerita sebagai tokoh utama merasakan dorongan kuat untuk menuruti contoh ibunya, berdoa kepada santo yang berspesialisasi sirkus. Tradisi Katolik memang mengenal tujuh ribuan santo dan santa yang dihormati dan dimintai intervensinya untuk beragam kebutuhan.
Sayangnya, tidak ada yang secara khusus datang dari dunia sirkus. Saat telah menjadi dewasa, kebutuhan yang sama pun mencuat. Namun, sekali lagi di sini khazanah religius tradisional tidak menyediakan penolong istimewa ”dari dunia sirkus sendiri. Santo-santo yang tahu apa yang terjadi di belakang tenda-tenda sirkus”.
Akrobatik berisiko
Mengangkat tema seperti ini bukanlah sebuah hal mudah. Dibutuhkan akrobatik imaginasi ahli sirkus dan kelenturan bahasa seorang pelawak untuk mengusung persoalan ini dalam isi dan bentuk sastra yang serius serentak jenaka. Seno berusaha, tetapi belum sepenuhnya berhasil.
Kecermatan pengamatan, kepekaan menangkap getaran batin dan pengetahuan yang luas mengenai dunia sirkus, musik, serta tradisi keagamaan yang dimiliki dan dimanfaatkan penulis novel ini memang sangat membantu membuat pelukisan yang detail. Hal ini tampaknya perlu dalam sebuah novel yang hampir tidak mengenal dialog. Hanya di dalam tiga bab terakhir dari 17 bab kita membaca beberapa dialog.
Persoalannya, pelukisan yang cermat itu gampang berubah menjadi sebuah analisis serius yang memudarkan kejenakaan. Bahaya ini diperbesar oleh penyimpangan dalam sejumlah penulisan kata dan kalimat dari kaidah tata bahasa baku.
Sirkus memang mengandalkan kejutan, tetapi kejutan yang sudah direncanakan matang dan mengusung makna. Sejumlah kesalahan penulisan di dalam novel ini tampaknya merupakan kelalaian dalam pengeditan yang perlu diperhatikan.
Tidak mudah memasukkan humor dan kejenakaan sirkus ke dalam agama. Bukan perkara mudah pula menulis karya sastra yang membawa dalam bentuknya pesan kejenakaan yang dipadukan dengan keilahian. Maka, pantaslah apabila orang berdoa agar diberikan rasa humor yang benar.
Thomas Morus (1478-1535), politisi dan santo berkebangsaan Inggris, disebut sebagai penulis doa tentang humor yang dapat pula dipakai untuk sirkus: ”Tuhan, berikanlah aku pencernaan yang baik dan juga sesuatu untuk dicernakan. Anugerahkanlah aku kesehatan tubuh beserta kesadaran untuk memeliharanya. Tuhan, berikanlah aku jiwa yang tidak kenal kejenuhan, yang tidak tahu menggerutu, mengeluh, dan mendesah. Jangan biarkan aku terlalu banyak dibebani kecemasan akan egoku yang selalu merasa kurang diperhatikan. Tuhan, berikanlah aku rasa humor. Anugerahkanlah aku rahmat untuk menikmati lelucon sehingga aku dapat sedikit merasakan kebahagiaan di dalam hidup ini dan dapat meneruskannya kepada orang lain!”

Budi Kleden, Dosen Teologi dan Sastra pada STFK Ledalero, Maumere, Flores (www.kompas.co.id-Minggu, 24 Juli 2011)

Sabtu, 23 Juli 2011

Integritas Yang diharapkan

Guru jauh lebih baik daripada dogma. Karena dia seorang penuntun harapan sekaligus pendengar,”
demikian kata sejarawan Edward Bulwer Lytton. Ungkapan hampir dua abad silam itu memberi pesan bahwa guru mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter dan nasib kemajuan suatu bangsa.
 
Bahkan ketika bom atom meluluh-lantakkan Hiroshima-Nagasaki pada awal Agustus 1945, Kaisar Jepang memerintahkan agar mendata para guru yang selamat. Ini menyiratkan pendidikan menjadi motor kebangkitan Jepang sebagai salah satu negara super power dunia.
 
Sayangnya, guru masih menjadi profesi nomor sekian bagi generasi muda Indonesia. Tidak heran bila kebutuhan guru di Indonesia masih dianggap belum ideal. Catatan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional pada 2009 menyebutkan, dengan jumlah sebanyak 2,7 juta guru saat ini, satu guru di Indonesia masih mengajar untuk 14 siswa. Distribusinya pun masih terpusat di kota-kota besar. Sehingga jam mengajar guru di daerah terpencil bisa mencapai 24-36 jam per pekan. Jauh lebih rendah daripada guru di perkotaan.
 
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya hadir pada 1 Januari 1961, menjadi wadah untuk melahirkan guru-guru kompeten dan bermoral. (atmajaya.ac.id)

Sebuah Kutipan yang cukup baik untuk kita bacabersama-sama, bagaimana seorang guru harusnya memiliki integritas yang tinggi. Pertanyaan yang mendasarnya ialah "apakah kini guru-guru Di Indonesia belum memiliki integritas yang tinggi? yang diharapkan oleh para tunas-tunas bangsa?" dan pertanyaan refleksi kita sebagai calon pendidik yaitu "apakah kita sudah mulai memiliki integritas yang dibutuhkan oleh seorang pendidik?" 

Jawaban ada pada kita semua, dan tergantung pada diri kita. Jika penulis boleh mengutip lagi, penulis ingin mengutip Motto dari BPH Sednat FKIP 2011/2012 "LAKUKAN SEKARANG ATAU TIDAK SAMA SEKALI!"

Warna-warni

Sebuah komunitas mengindikasikan sebuah persatuan yang harmonis dari berbagai individu, bahkan kelompok yang berbeda. Komunitas diartikan juga sebagai kelompok yang besar dan menjadikan satu dalam arti yang berbeda. Memiliki warna yang bermacam-macam, dan tak hanya sebagai terang tersendiri namun menjadikan semua itu kedalam sebuah kanvas yang akhirnya terdapat spektrum yang indah.
Begitulah yang kita inginkan bersama-sama dalam keluarga FKIP Atma Jaya. Sebuah warna yang indah, dan luar biasa karena kita sama-sama tahu bahwa dalam komunitas FKIP itu sendiri sangat banyak karakter-karakter. Sepatutnya kita harus bersyukur karena keanekaragaman ini nampaknya menjadi nilai yang positif bagi FKIP. Masih terngiang yang ada di telinga penulis saat Ibu Dekan Dra. Laura Fransiska berbicara dalam sambutannya di pelantikan senat mahasiswa FKIP Atmajaya. Beliau memaparkan kualitas sebuah pendidik yang harus dibenahi dan disadari sebenarnya ada pada masing-masing individual, terlepas dari hal itu dari masing-masing karakter mahasiswa sebagai calon pendidik sebenarnya ada sebuah potensi yang besar bagi seorang pendidik. Warna-warni itu sebenarnya ada namun tak pernah kita sadari.
Selain itu ada baiknya lebih didorongkan sebuah nilai-nilai kekeluargaan yang lebih menonjol, sebagai ciri khas FKIP. Bukan karena faktor dari Fakultas kita lebih minim mahasiswa-mahasiswinya sehingga lebih mudah untuk di koordinir tetapi kita seharusnya sebagai calon pendidik memiliki sifat kekeluargaan yang kental. Ada sebuah gambaran yang mungkin bisa menjadi tolok ukur, yaitu ketika penulis berjalan-jalan di koridor Gedung van lith ada beberapa kumpulan orang empat hingga lima orang, mereka sedang duduk bersama-sama. Dua diantara mereka membawa makanan, dan tiga lainnya tidak. Tetapi dengan relanya mereka mau berbagi, cukup indah. Realita yang penulis ingin ambil adalah: bagaimana SEMUA anggota komunitas KELUARGA FKIP memiliki rasa kekeluargaan yang erat bukan hanya antar Prodi namun semua anggota dari dose, karyawan hingga mahasiswa. Mungkin warna-warni yang berbeda itu akan semakin nyata dalam spektrum, dan menyilaukan. Bisa saja itu terjadi, dan itu akan terjadi nanti. Sebuah keakraban yang dimulai dari Sekarang!

Kamis, 07 Juli 2011

sekapur sirih

Ada pepatah lama yang berkata begini, "kata orang, tak kenal maka tak sayang".
hal ini sangat relevan dengan dengan kehidupan manusia pada umumnya. mana ada orang yang tiba-tiba jatuh cinta tanpa mengenal orang yang dicintai terlebih dulu? mana ada pahlawan yang rela membela bangsanya tanpa mengenal bangsanya itu lebih dulu, mana ada pula yang sayang dengan Fkip tercinta kita, tanpa mengenalnya terlebih dulu.

Benar sekali, blog ini dibuat oleh senat mahasiswa dengan maksud untuk memperkenalkan FKIP UAJ. Paling tidak kepada segenap warga Fkip, kepada seluruh mahasiswa Universitas Atmajaya, dan kepada seluruh Indonesia.
...

Sedangkan di sisi satunya, bisa kita saksikan bahwa "teknologi" sudah menjadi semacam kebutuhan, rekanan, atau teman hidup sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri, dewasa ini orang (apalagi mahasiswa) semakin akrab dengan dunia teknologi. khususnya internet, keberadaannya seringkali mempermudah banyak hal.

Berkaitan dengan kedua hal diatas, kenapa pula sarana teknologi internet- yang katanya sangat akrab dengan kehidupan mahasiswa tidak digunakan secara maksimal? ya, pada akhirnya biarlah blog dalam dunia maya ini bisa berfungsi dengan maksimal. menjadi sarana untuk memperkenalkan FKIP Unika Atmajaya, sarana informasi bagi Mahasiswa, sarana pemersatu, serta sarana inspirasi bagi kita semua.

selamat membaca- semangat FKIP Atmajaya !:)