Sabtu, 23 Juli 2011

Integritas Yang diharapkan

Guru jauh lebih baik daripada dogma. Karena dia seorang penuntun harapan sekaligus pendengar,”
demikian kata sejarawan Edward Bulwer Lytton. Ungkapan hampir dua abad silam itu memberi pesan bahwa guru mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter dan nasib kemajuan suatu bangsa.
 
Bahkan ketika bom atom meluluh-lantakkan Hiroshima-Nagasaki pada awal Agustus 1945, Kaisar Jepang memerintahkan agar mendata para guru yang selamat. Ini menyiratkan pendidikan menjadi motor kebangkitan Jepang sebagai salah satu negara super power dunia.
 
Sayangnya, guru masih menjadi profesi nomor sekian bagi generasi muda Indonesia. Tidak heran bila kebutuhan guru di Indonesia masih dianggap belum ideal. Catatan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional pada 2009 menyebutkan, dengan jumlah sebanyak 2,7 juta guru saat ini, satu guru di Indonesia masih mengajar untuk 14 siswa. Distribusinya pun masih terpusat di kota-kota besar. Sehingga jam mengajar guru di daerah terpencil bisa mencapai 24-36 jam per pekan. Jauh lebih rendah daripada guru di perkotaan.
 
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya hadir pada 1 Januari 1961, menjadi wadah untuk melahirkan guru-guru kompeten dan bermoral. (atmajaya.ac.id)

Sebuah Kutipan yang cukup baik untuk kita bacabersama-sama, bagaimana seorang guru harusnya memiliki integritas yang tinggi. Pertanyaan yang mendasarnya ialah "apakah kini guru-guru Di Indonesia belum memiliki integritas yang tinggi? yang diharapkan oleh para tunas-tunas bangsa?" dan pertanyaan refleksi kita sebagai calon pendidik yaitu "apakah kita sudah mulai memiliki integritas yang dibutuhkan oleh seorang pendidik?" 

Jawaban ada pada kita semua, dan tergantung pada diri kita. Jika penulis boleh mengutip lagi, penulis ingin mengutip Motto dari BPH Sednat FKIP 2011/2012 "LAKUKAN SEKARANG ATAU TIDAK SAMA SEKALI!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar